Pendidikan Sebagai Ilmu Pengetahuan

Pendidikan

  1. A.    Ilmu Pendidikan Sebagai Ilmu Pengetahuan
    1. 1.      Ilmu Pengetahuan dan Syarat-syaratnya

Menurut Dr. Sutari Bernaidib, ilmu pengetahuan ialah suatu uaraian yang lengkap dan tersusun tentang suatu objek. Sedangkan Drs. Amir Daien Indrakusuma mengartikan bahwa ilmu pengetahuan ialah uraian yang sistematis dan metodis tentang suatu hal atau masalah. Adapun syarat-syaratnya adalah:

a)      Objek formal sendiri

Objek dalam dunia ilmu pengetahuan di bedakan menjadi dua, yaitu objek formal dan objek material. Objek formal adalah sudut tinjauan dari penelitian atau pembicaraan suatu ilmu pengetahuan. Sedangkan objek material adalah bahan atau masalah yang menjadi pembicaraan atau penelitian dari suatu ilmu pengetahuan. Sebagai contoh dari objek formal adalah sosiologi dan psikologi yang dapat mempunyai objek material yang sama yakni manusia.

b)      Metode penelitian

Setiap ilmu pengetahuan harus di syaratkan  mempunyai metode penelitian yaitu cara-cara yang dapat di pertanggungjawabkan secara ilmiah baik metode pengumpulan keterangan atau data ataupun metode metode pengolahan dengan pola pikir yang induktif atau deduktif.

c)      Sistematika uraian

Merupakan persyaratan ilmu pengetahuan yang otonom. Maksudnya merupakan uraian sejumlah komponen atau unsur yang berkaitan satu dengan lainya menurut susunan tetentu sehingga merupakan satu kesatuan yang berfungsi untuk mencapai suatu tujuan.[1]

  1. 2.      Kedudukan Ilmu Pendidikan pada Ilmu Pengetahuan

Dari masa ke masa ilmu pendidikan selalu berkembang dan banyak bermunculan ilmu baru yang memisahkan diri dari induknya. Munculnya ilmu baru itu karena telah memenuhi syarat maka ia berhak berdiri sendiri. Untuk dapat di ketahui mana cabang dan mana induk dari ilmu pengetahuan maka perlu di adakanya penggolongan-penggolongan sehingga dapat di ketahui kedudukan masing-masing ilmu.

Pendidikan sendiri mempunyai unsur-unsur pembentuk. Adapun unsur-unsur pendidikan adalah:

  • Komunikasi ( adanya interaksi )
  • Kesengajaan ( perbuatan yang di lakukan dengan sadar oleh orang dewasa )
  • Kewibawaan ( pengaruh yang di terima secara sukarela )
  • Normatif ( norma sosial dan prinsip didaktif )
  • Unsur anak
  • Unsur  kedewasaan ( baik fisik maupun psikis )[2]
  1. B.     Pengertian Dan Faktor-faktor Pendidikan
    1. a.      Pengertian Pendidikan

Secara etimologi pendidikan atau pedagogie berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari kata pais yang artinya anak dan again yang artinya membimbing. Jadi pedagogie artinya bimbingan yang di berikan kepada anak.[3]

Secara definitif pendidikan di artikan oleh para tokoh pendidikan alah sebagai berikut:

  1. 1.      John Dewey

Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.

  1. 2.      Langeveld

Mendidik adalah mempengaruhi anak dalam usaha membimbingnya supaya menjadi dewasa. Maksudnya, usaha yang di sadari dan di laksanakan dengan sengaja antara orang dewasa dengan anak yang belum dewasa.

  1. 3.      Hoongeveld

Mendidik adalah membantu anak supaya ia cukup cakap menyelenggarakan tugas hidupnya atas tanggung jawabnya sendiri.

  1. 4.      SA. Bratanata dkk.

Pendidikan adlah usaha yang sengaja di adakan baik langsung maupun dengan cara yang tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembanganya mencapai kedewasaannya.

  1. 5.      Rousseau

Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa anak-anak akan tetapi kita membutuhkanya pada waktu dewasa.

  1. 6.      Ki Hajar Dewantara

Mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

  1. 7.      GBHN (Garis Besar Haluan Negara)

Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemapuan di dalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup.[4]

  1. b.      Faktor-faktor Pendidikan

Dalam proses perkembangan pendidkan di dunia barat, kegiatan pendidikan berkembangdari konsep pedagogie, andradogie, dan education. Dalam konsep pedagogie, di tujukan hanya kepada anak yang belum dewasa, yang bertujuan mendewasakan anak.

Namun karena banyak hasil didikan yang justru menggambarkan prilaku yang tidaak dewasa, maka sebagai antithesis dari kenyataan itu muncul gerkan andradogie, yang selanjutnya gerakan modern yang memunculkan konsep education yang berfungsi ganda yaitu transfer of knowledge di satu sisi dan making scientific attitude pada sisi yang lain.

Menurut Dr. Sutari Imam Barnadib, bahwa perbuatan pendidik dan yang di didik memuat factor-faktor tertentu yang mempengaruhi dan menentukan, yaitu:

  • Adanya tujuan pendidikan yang hendak di capai
  • Adanya subjek manusia ( pendidik dan anak didik ) yang melakukan pendidikan.
  • Hidup bersama dalam lingkungan hidup tertentu ( milieu ).
  • Menggunakan alat-alat tertentu untuk mencapai tujuan.[5]
  1. C.    Teori-teori Pendidikan
    1. 1.      Behaviorisme

Adalah posisi filosofis yang mengatakan bahwa untuk menjadi ilmu pengetahuan, psikologi harus memfokuskan perhatianya pada sesuatu yang bisa di teliti lingkungan dan prilaku-prilaku dari pada fokus pada apa yang tersedia dalam individu, persepsi-persepsi, pikiran-pikiran, berbagai citra, perasaan-perasaan dan sebagainya.

Perasaan itu sifatnya subjektif dan kebal bagi pengukuran, sehingga tidak akan pernah menjadi ilmu pengetahuan yang objektif. Kerangka kerjanya adalah empirisme, sedangkan asumsinya adalah nature of human being ( manusia tumbuh secara alami).

Aliran ini di dasarkan pada tingkah laku yang di amati. Oleh karena itu aliran ini berusaha mencoba menerangkan dalam pembelajaran bagaimana lingkungan berpengaruh terhadap perubahan tingkah laku. Tokohnya antara lain Parlov, Watson, Skinner, Hull, Guthrie, Thorndike.[6]

  1. 2.      Kognitivisme

Kerangka kerja atau dasar pendidikan teori ini adalah dasarnya rasional. Teori ini memiliki asumsi filosofis yaitu the way in which we learn. Pengetahuan seseorang di peroleh berdasarkan pemikiran. Yang kemudian di sebut dengan filosofi rasionalism.

Menurut teori ini kita belajar di sebabkan oleh kemampuan kita dalam menfsirkan peristiwa atau kejadian yang terjadi dalam lingkungan. Teori ini berusaha menjelaskan dalam hal belajar bagaimana orang-orang berfikir. Teori ini menjelaskan bagaiman belajar terjadi dan mmenjelaskan secara alami kegiatan mental internal dalam diri kita. Dalam teori ini lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. [7]

  1. 3.      Konstruktivisme

Kaitanya dengan pembelajaran teori ini yang menjadi dasar bahwa siswa memperoleh pengetahuan adalah karena keaktifan siswa itu sendiri.

Konsep pembelajaran menurut teori ini adalah suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk melakukan proses aktif membangun konsep baru dan pengetahuan baru, berdasarkan data.

Oleh karena itu pembelajaran harus di rancang dan di kelola sedemikian rupa sehingga mampu mendorong sisiwa mengorganisasi pengalamnaya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna. Jadi dalam pandangan  konstruksivisme sangat penting peran siswa untuk dapat membangun constructive habits of mind.

Teori ini mencerminkan siswa memiliki kebebasan berfikir yang bersifat elektrik, yang artinya siswa dapat memanfaatkan tehnik belajar apapun asal tujuan belajar dapat tercapai. Teori ini mengakomodasi teori humanistik.[8]

  1. 4.      Teori Belajar Humanistik

Pada dasrnya memiliki tujuan belajar untuk memanusiakan manusia. Oleh karena itu proses belajar dapat di katakan berhasil apabila si pembelajar telah memahami lingkunganya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain si pembelajar dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.

Tujuan utamanya para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.

Menurut aliran humanistik, para pendidik seharusnya melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikulum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini

Secara singkat pendekatan humanistik dalam pedidikan menenkankan pada perkembangan positif pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampua tersebut.

Dalam teori ini belajar di anggap berhasil jika pembelajar memahami lingkunganya dan dirinya sendiri, dan teori ini memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya bukan dari sudut pandang pengamatnya. [9]

 

  1. D.    Dasar-dasar Dan Tujuan Pendidikan
    1. 1.      Dasar Pendidikan

Yang di maksud dengan dasar adalah landasan atau tempat berpijak atau sandaran dari suatu perbuatan. Adapun dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia dapat di klarifikasi sebagai berikut, yakni: dasar ideal, konstitusional dan operasional.

a)      Dasar ideal dari pendidikan Indonesia adalh pancasila yang dengan itu dapat membentuk warga Negara yang berjiwa pancasila.

b)      Dasar konstitusional dari pendidikan adalh UUD 1945, karena UUD 1945 merupakan sumber hukum bagi segala aktivitas warga negara terutama di bidang pendidikan.

c)      Sedangkan dasar operasional merupakan dasar pendidikan yang meliputi:

  • UU No. 4 tahun 1950, UU No. 12 tahun 1954 Bab. III tentang dasar pendidikan
  • TAP MPR No. II/MPR/1978 pasal 4 tentang P4
  • TAP MPR No. IV/MPR/1983 tentang GBHN
  • Keputusan presiden No. 145 tahun 1965 tentang nama dan rumusan induk sistem pendidikan nasional.

Dasar dan Tujaun pendidikan adalah merupakan suatu masalah yang sangat fondamentil dalam pelaksanaan pendidikan, sebab dari dasar itu akan menentukan corak dan isi pendidikan.

  1. 2.      Tujuan Pendidikan

Menurut sejarah bangsa yunani tujuan pendidikan adalah ketentraman. Sebagai contoh berperang, mereka sangat mementingkan pendidikan jasmani dan rohani, agar badan menjadi sehat, kuat, dan tangkas serta siap menghadapi peperangan di manapun dan kapanpun.[10]

Menurut Islam tujuan pendidikan ialah membentuk manusia supaya sehat, cerdas, patuh, dan tunduk kepada perintah Tuhan serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Sehingga ia dapat berbahagia hidupnya lahir bathin, dunia akhirat.

Pada umumnya tiap-tiap negara sepakat bahwa tujuan pendidikan adalah mengusahakan supaya tiap-tiap orang sempurna pertumbuhan tubuhnya, sehat otaknya, baik budi pekertinya dan sebagainya.[11]

 

  1. E.     Aspek-aspek Pendidikan

Adapun aspek atau macam pendidikan dapat di klarifikasikan sebagai berikut:

1)      Pendidikan agama  yang meliputi kesadaran, sikap mental positif, dan perbuatan relegius,

2)      Pendididkan moral atau kesusilaan pada dasarnya ialah sikap positif, dan dapat menciptakan keindahan,

3)      Pendidikan kesenian yang bertujuan untuk dapat menikmati keindahan, sikap positif dan dapat menciptakan keindahan,

4)      Pendidikan sosial dasarnya adalah bahwa manusia adalah mahluk sosial dan tujuannya adalah membentuk anak menjadi manusia sosial.

5)      Pendidikan kewarganegaraan dasarnya manusia zoon politicon, sadar politik, sadar sebagai warga Negara.

6)      Pendidikan kecerdasan dasarnya adalah manusia sebagai homo sapiens tujuannya membentuk manusia cerdas.

7)      Pendidikan ketrampilan dasarnya manusia makhluk yang memiliki kemampuan tangan untuk menciptakan sesuatu, dan pendidikan jasmani dasarnya sebagai makhluk biologi tujuannya membina perkembangan fisik supaya sehat atau kuat.

  1. F.     Lembaga-Lembaga Pendidikan

Lembaga pendidikan ialah badan usaha yang bergerak dan bertanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan terhadap anak didik. Lembaga pendidikan dapat di kategorikan ke dalam tiga bagian besar, yakni:

  1. 1.      Lembaga Pendidikan Formal

Adalah tempat yang paling memungkinkan seseorang meningkatkan pengetahuan, dan paling mudah untuk membina generasi muda yang di laksanakan oleh pemerintah dan masyarakat.lembaga ini membahas masalah sekolah sebagai lembaga yang di katakan formal karena di adakan di sekolah atau temapt tertentu, teratur sistematis, mempunyai jenjang dan dalam kurun waktu tertentu serta berlangsung mulai dari jenjang terendah sampai ke jenjang yang tertinggi.

  1. 2.      Lembaga Pendidikan Non Formal

Ialah segala bentuk pendidikan yang di selenggarakan dengan sengaja, tertib, dan berencana, di luar kegiatan persekolahan. Komponen yang di perlukan  harus di sesuaikan dengan keadaan anak dan peserta didik agar memperoleh hasil yang memuaskan, diantaranya adalah:

  1. Guru atau tenaga pengajar atau pembimbing atau tutor,
  2. Fasilitas,
  3. Cara menyampaikan atau metode, dan
  4. Waktu yang di pergunakan.[12]
  1. 3.      Pendidikan Informal

Pendidikan ini berlangsung di tengah-tengah keluarga dan tidak menutup kemungkinan terjadi di lingkungan sekitar keluarga tertentu, pasar, perusahaan, terminal dan lain-lain yang berlangsung setiap hari tanpa ada batas waktu.

Kegiatan pendidikan ini tidak terikat adanya suatu organisasi yang ketat, adanya program waktu, dan tanpa adanya sebuah evaluasi, dan terjadi di luar sekolah.[13]

  1. a.      Keluarga sebagai pendidikan pertama dan utama

Keluarga merupakan alam pendidikan pertama atau dasar, karena anak yang lahir itu dalam pemeliharaan orang tua dan di besarkan di dalam keluarga. Orang tua tanpa di suruh langsung memikul tugas sebagai pendidik baik bersifat sebagai pemelihara pengasuh, pembimbing, pembina, maupun sebagai guru kepada anak-anaknya.

Dan yang terpenting anak itu mendapatkan pelajaran norma-norma dan sopan santun ketika di dalam keluarga. Dan keluarga merupakan ajang di mana sifat-sifat kepribadian anak terbentuk mulai pertama, maka dapat di katakan keluarga merupakan tempat atau alam pendidikan yang pertama dan utama.

  1. b.      Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang kedua

Sekolah memgang peranan penting dalam pendidikan karena pengaruhnya sangat besar sekali pada jiwa anak, di samping keluarga sebagai pusat pendidikan untuk pembentukan pribadi anak.

Dalam hal ini guru berperan sangat penting karena dia bertindak bukan hanya sebagi pendidik melainkan juga sebagi orang tua kedua yang ada di sekolah. Oleh karena itu guru harus dapat membimbing dan mengarahkan sehigga dapat menjadi penunjuk dari setiap permasalahan yang ada. Jadi guru harus bersifat professional dan mampu menjadi lentera pendidikan.

  1. c.       Masyarakat sebagai lembaga pendidikan ketiga

1)      Noma-norma sosial budaya

Masala pendidikan di keluarga dan di sekolah tidak dapat di elakkan dari nilai-nilai sosial budaya yang ada dalam lapisan masyarkat. Setiap lapisan masyarakat mempunyai karakteristik tersendiri dalam norma yang berbeda dari lapisan masyarakat lainya.

Di masyarakat terdapat norma-norma sosial budaya yang harus di ikuti oleh warganya dan norma-norma itu berpengaruh dalam pembentukan kepribadian warganya dalm bertindak dan bersikap

2)      Aktivitas Kelompok sosial

Kelompok-kelompok masyarakat yang terdiri dari dua orang atau lebih dan berkerjasama di bidang tertentu merupakan sumber pendidikan bagi warga masyarakat, seperti lembaga-lembaga sosial budaya, yayasan-yayasan, organisasi-organisasi, pekumpulan-perkumpulan, yang kesemuanya itu merupaka unsur-unsur pelaksana atas pendidikan masyarakat.[14]

  1. G.    Guru Sebagai Pendidik

Guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas ataupun di luar dinas. Ada tiga jenis tugas guru, yakni: tugas dalam bidang profesi, tugas dalam bidang kemanusiaan, dan tugas dalam bidang kemasyarakatan.

Tugas guru dalam hal profesi meluputi mendidik, mengajar dan melatih.

  • Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup.
  • Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • Melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.

Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadkan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus menarik simpati para siswa sehingga menjadi idola para siswanya.

Tugas dan peran guru dalam masyarakat tidaklah terbatas, bahkan guru pada hakikatnya merupakan komponen strategis yang memiliki peran yang penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa. Bahkan keberadaanya merupakan factor condisio sine quanon yang tidak mungkin di gantikan oleh komponen manapun dalam kehidupan bangsa sejak dulu.

  1. 1.      Peran Guru Dalam Proses Kegiatan Belajar Mengajar ( KBM )

Peran dan kompetensi guru dalam proses belajar-mengajar, meliputi banyak hal sebagaimana yang di kemukakan oleh Adam dan Decey dalam basic Principles of student teaching, antara lain: pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, ekspeditor, perencana, supervisor, motivator dan konselor.

Yang paling dominan adalah sebagai berikut:

  1. a.      Sebagai Demonstrator

Hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan di ajarkannya serta senantiasa mengembangkanya dalam arti meningkatkan kemapuan nya dalam hal ilmu yang di milikinya karena dalam hal ini sangat menentukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa.

  1. b.      Sebagai Pengelola Kelas

Guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu di organisasi. Tujuanya adalah untuk menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik.

  1. c.       Sebagi Mediator dan Fasilitator

Hendaknya guru memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses KBM.

  1. d.      Sebagai Evaluator

Hendaknya guru menjadi evaluator yang baik, yang mana pada waktu-waktu tertentu pada satu periode pendidikan selalu mengadakan penilaian terhadap hasil yang telah dicapai baik dari pihat terdidik maupun pihak pendidik.[15]

DAFTAR PUSTAKA

  1. Drs, H. Abu Ahmadi & Dra. Nur Uhbiyati. 2007. Ilmu Pendidikan Jakarta: PT Rineka Cipta
  2. DRS Moh. Uzer Usman. 2003. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  3. Drs M sukardjo  Ukim Komarudin, M.Pd. 2009. Landasan Pendidikan Konsep Dan Aplikasinya. Jakarta: PT Raja Gravindo Persada.
  4. Hasbullah. 2009. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

[1] Drs. H. Abu Ahmadi dkk, Ilmu Pendidikan, Hal 81

[2] Drs. H. Abu Ahmadi dkk, Ilmu Pendidikan, Hal 93

[3] Drs. H. Abu Ahmadi dkk, Ilmu Pendidikan, Hal 68

[4] Drs. H. Abu Ahmadi dkk, Ilmu Pendidikan, Hal 70

[5] Hasbullah, Dasar-dasar Pendidikan, Hal 10

[6] Drs. M. Sukardjo dkk, Landasan Pendidikan Konsep Dan Aplikasnya, Hal 33 dan 34

[7] Drs. M. Sukardjo dkk, Landasan Pendidikan Konsep Dan Aplikasnya, Hal 50

[8] Drs. M. Sukardjo dkk, Landasan Pendidikan Konsep Dan Aplikasnya, Hal 55

[9] Drs. M. Sukardjo dkk, Landasan Pendidikan Konsep Dan Aplikasnya, Hal 56 dan 57

[10] Drs. H. Abu Ahmadi dkk, Ilmu Pendidikan, Hal 99

[11] Drs. H. Abu Ahmadi dkk, Ilmu Pendidikan, Hal 98

[12] Drs. H. Abu Ahmadi dkk, Ilmu Pendidikan, Hal 164

[13] Drs. H. Abu Ahmadi dkk, Ilmu Pendidikan, Hal 169

[14] Drs. H. Abu Ahmadi dkk, Ilmu Pendidikan, Hal 184

[15] Drs. Moh. Uzer  Usman, Menjadi Guru Profesional, Hal 11

Bagi yang gak mau Acak acakan akibat copas, download saja di bawah.. !!

Ilmu Pendidikan Sebagai Ilmu Pengetahuan
Ini adalah bukti makalah tersebut. Langsung saja… tanpa Basa-basi :D :D

Silahkan ini link…………….  D…O..W..N..L..O..A..D  …………………..
*Jika butuh password, pm/ hubungi saya via FB di https://www.facebook.com/jonikawijayasekampung
Atau SMS aja di nomer ini !! 0856 6956 0075 he he..

Posted on 20 Juli 2012, in Pendidikan. Bookmark the permalink. Komentar Dimatikan.

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: