Category Archives: Agama Islam

Daftar 853 Nama Bayi Menurut Islam

Nama Bayi Scara Islami

Ini adalah rujukan bagi anda apabila anda membutuhkan referensi rujukan untuk memberikan sebuah nama kepada calon buah hati anda, dimana sebuah nama itu bukan hanya mengandung arti saja, akan tetapi sebuah nama pun juga adalah doa bagi yang menyandang nya. Oleh karena itu, alangkah baiknya kita sebagai orang islam memberikan nama yang baik kepada calon buah hati kita supaya apa yang kita harapkan kepada sang buah hati dapat tercapai. Aaamiiin.. !!

 

Silahkan saja ini link…………….  D…O..W..N..L..O..A..D  …………………..

*Jika butuh password, pm/ hubungi saya via FB di https://www.facebook.com/jonikawijayasekampung
Atau SMS aja di nomer ini !! 0856 6956 0075 he he..

Iklan

Boleh Kok !! Hukum Pacaran Dalam Islam

Sebenarnya Pacaran Dalam Islam itu Boleh Lo…  ??

pacaran

Cinta memang fitrah manusia yang memang sudah seharusnya dipunyai oleh setiap orang. Kebanyakan anak muda salah menerjemahkan cinta hanya kepada lawan jenis yang sebayanya saja atau mungkin dapat diartikan dorongan seksual yang membuatnya cinta kepada lawan jenis. Tapi mereka lupa karena cinta tak hanya kepada lawan jenis karena terdorong seksual, cinta pun menaungi keluarga. Cinta kepada orang tua, kakak, adik dan sebagainya.

Lalu muncul pertanyaan, bolehkah pacaran dalam Islam? Sudah banyak hadis yang diriwayatkan untuk membahas ini dan banyak pula buku-buku diterbitkan hanya untuk membahas pacaran dalam Islam. Lalu bagaimana? Apakah boleh pacaran dalam Islam?

Pacaran Dalam Islam? Memang Boleh!

Jika kita tilik dari segi bahasa, darimana sih kata ‘pacaran’? Ternyata akan kita dapati kata tersebut berasal dari bahasa Jawa yang kata dasarnya ‘pacar’. Pacar adalah suatu jenis bunga berwarna tertentu yang biasanya dipakai/dihancurkan untuk mewarnai kuku pada wanita yang sedang menikah untuk menyambut suaminya pada malam pertamanya. Tapi kita tidak akan membahas ‘pacaran’yang ini.

Dan pacaran yang kita dapati saat ini adalah bermakna memadu cinta dari lawan jenis, saling mengasihi, saling mencintai, saling menyayangi dan melakukan kegiatan layaknya orang yang saling mencinta, seperti gandengan tangan, berdua-duaan. Bagaimana hukum pacaran dalam Islam? Ya, sesuai dengan judul artikel ini : memang boleh! tapi dengan syarat, yaitu dengan dihalalkan terlebih dahulu hubungan mereka dengan cara pernikahan. Pacaran dalam Islam itu sangat dianjurkan terutama setelah halal. Hukum pacaran dalam Islam akan menjadi haram apabila dilakukan sebelum menikah. Sesuai dengan beberapa hadis

“Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang)” [Al-Israa : 32]

Barangsiapa yang percaya kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia berdua-duaan dengan perempuan yang tidak ada bersamanya seorang muhrimnya karena yang ketiganya di waktu itu adalah setan.”

“Seseorang ditusuk kepalanya dengan jarum besi lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ar-Ruyani di dalam kitab Musnad-nya (227/2)

Nah, sekedar berdua-duaan saja atau menyentuh saja tidak boleh, apalagi pacaran sebeulum halalnya? Bisa jadi muncul sebuah pertanyaan, saya sudah cinta banget, gimana nih? Itu simpel saja, yaitu halal kan hubungan dengan menikah. Apa yang menahanmu dari sunah rasulallah yang sangat disarankan ini. Soal rezeki? Menyikapi soal rezeki yang dirasa tidak cukup untuk kehidupan rumah tangga ini, Ippho Santosa memberikan perumpamaan “Hidup sendiri-sendiri saja cukup rezekinya, bagaimana jika dua rezeki digabungkan(menikah)? tentu akan lebih besar kan? menikah itu meluaskan rezeki” begitu kira-kira tutur Ippho Santosa. Menikah itu berpahala. Dan yakinlah yang menyediakan rezeki itu bukan manusia tapi Allah SWT.

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.”
(QS. An Nuur (24) : 32)

Begitulah penjelasan pacaran dalam islam yang mulia. yang dimaksud pacaran dalam islam atau pacaran islami adalah pacaran tapi setelah menikah, Semoga bermanfaat. !!!

 

Hukum Menyeka Air Dengan Handuk dan Kain Sehabis Wudlu

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat diantaranya:

1.    Pendapat yang membolehkanya pendapat ini di pegangi oleh Al Hasan bin Ali, Anas bin Malik Usman bin Affan, Ats Tsauri dan Imam Malik. Mereka berpegangan pada hadits yang telah diriwayatkan oleh Aisyah RA yang berbunyi:

Dari Aisyah: ”Bahwa Rasulullloh SAW memiliki seotong kain yang biasa digunakan untuk menyeka air sesudah wudhu.

( HR At Turmudzi)[1]

Hadits tersebut doif karena dalam sanadnya terdapat seorang rowi yang bernama Abu Mu’ad, yaitu Sulaiman bin Arqom Al Basyri, dia adalah matruk.

Imam Ahmad berkata : Dia tidaklah mengapa sedangkan Amr bin Ali menyatakan bahwa ia adalah tidak tsiqoh dan banyak meriwayatkan hadits-hadits munkar.

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrok dan Al Baihaqidan tidak sohih.[2]

Dalam riwayat yang lain Imam At Turmudzi meriwayatkan hadits yang datang dari Sahabat Mu’adz Buin Jabal yang berbunyi :

Dari Mu’adz Bin Jabal ia berkata: Saya melihat Rasululoh SAW apabila selesai dari wudllunya dengan ujung bajunya. (HR At Turmudzi)

Hadits ini juga dlo’if karena diadalamnya terdapat Risydin bin Sa’ad bin Abdurrohman Al Ifriqy Iamam An Nasa’I menyebutkan bahwa ia  do’if Abu Zur’ah dan Abi Hatim menyatakan bahwa ia adalah Munkarul Hadits. Sedang Ibnu Huzaimah menyatakan bahwa ia tidak boleh dijadikan Hujjah.[3]

1.      Yang memakruhkan yang berpendapat seperti ini adalah Umar bin Khotob, Ibnu Abi Laila Imam Yahya Bin Ma’in dan para pebngikut Imam Al Hadi.[4]

Pendapat kedua ini berhujjah dengan hadits yanbg datang dai Anas bin Malik :

Sesunguhnya Rasululloh SAW tidak mengusap wajahnya sesudah wudlu denagn kain, tidak pula Abu Bakar, Umar Ali dan Abdulloh bin Mas’ud ( HR Ibnu Sirin )

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa hadits ini lemah.

Kesimpulan: Bolehnya menyeka air sehabis wudu dengan kain ataupun handuk karena inilah yang paling rojih dari dua pendapat walau dengan hadits do’’if tapi jumlahnya banyak dan asal dari sesuatu itu boleh hingga ada dalil yang melarangnya. Dan adapun hadits yang menunjukan larangan tidaklah sohih.


[1] Sunan Turmudzi No. 53

[2] Al mustadrok I: 154, Al Baihaki dalam Al Kubro I: 185 dan Turmudzi I :119

[3] Sunan At Turmudzi I 119-120

[4] Nailul Autor I : 193

Hak Istri Dalam Poligami

Poligami merupakan syariat Islam yang akan berlaku sepanjang zaman hingga hari akhir. Poligami diperbolehkan dengan syarat sang suami memiliki kemampuan untuk adil diantara para istri, sebagaimana pada ayat yang artinya:


“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Poligami merupakan syariat Islam yang akan berlaku sepanjang zaman hingga hari akhir. Poligami diperbolehkan dengan syarat sang suami memiliki kemampuan untuk adil diantara para istri, sebagaimana pada ayat yang artinya:


“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”


Berlaku adil dalam bermuamalah dengan istri-istrinya, yaitu dengan memberikan kepada masing-masing istri hak-haknya. Adil disini lawan dari curang, yaitu memberikan kepada seseorang kekurangan hak yang dipunyainya dan mengambil dari yang lain kelebihan hak yang dimilikinya. Jadi adil dapat diartikan persamaan. Berdasarkan hal ini maka adil antar para istri adalah menyamakan hak yang ada pada para istri dalam perkara-perkara yang memungkinkan untuk disamakan di dalamnya.

Adil adalah memberikan sesuatu kepada seseorang sesuai dengan haknya.
Apa saja hak seorang istri di dalam poligami?
Diantara hak setiap istri dalam poligami adalah sebagai berikut:


A. Memiliki rumah sendiri

             Setiap istri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 33, yang artinya, “Menetaplah kalian (wahai istri-istri Nabi) di rumah-rumah kalian.” Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla menyebutkan rumah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam bentuk jamak, sehingga dapat dipahami bahwa rumah beliau tidak hanya satu.


Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menceritakan bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sakit menjelang wafatnya, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya, “Dimana aku besok? Di rumah siapa?’ Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menginginkan di tempat Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, oleh karena itu istri-istri beliau mengizinkan beliau untuk dirawat di mana saja beliau menginginkannya, maka beliau dirawat di rumah Aisyah sampai beliau wafat di sisi Aisyah. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal di hari giliran Aisyah. Allah mencabut ruh beliau dalam keadaan kepada beliau bersandar di dada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.


Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan dalam kitab Al Mughni bahwasanya tidak pantas seorang suami mengumpulkan dua orang istri dalam satu rumah tanpa ridha dari keduanya. Hal ini dikarenakan dapat menjadikan penyebab kecemburuan dan permusuhan di antara keduanya. Masing-masing istri dimungkinkan untuk mendengar desahan suami yang sedang menggauli istrinya, atau bahkan melihatnya. Namun jika para istri ridha apabila mereka dikumpulkan dalam satu rumah, maka tidaklah mereka. Bahkan jika keduanya ridha jika suami mereka tidur diantara kedua istrinya dalam satu selimut tidak mengapa. Namun seorang suami tidaklah boleh menggauli istri yang satu di hadapan istri yang lainnya meskipun ada keridhaan diantara keduanya.

Tidak boleh mengumpulkan para istri dalam satu rumah kecuali dengan ridha mereka juga merupakan pendapat dari Imam Qurthubi di dalam tafsirnya dan Imam Nawawi dalam Al Majmu Syarh Muhadzdzab.


B. Menyamakan para istri dalam masalah giliran

            Setiap istri harus mendapat jatah giliran yang sama. Imam Muslim meriwayatkan hadits yang artinya Anas bin Malik menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki 9 istri. Kebiasaan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bila menggilir istri-istrinya, beliau mengunjungi semua istrinya dan baru behenti (berakhir) di rumah istri yang mendapat giliran saat itu.


Ketika dalam bepergian, jika seorang suami akan mengajak salah seorang istrinya, maka dilakukan undian untuk menentukan siapa yang akan ikut serta dalam perjalanan. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menyatakan bahwa apabila Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hendak safar, beliau mengundi di antara para istrinya, siapa yang akan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sertakan dalam safarnya. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa menggilir setiap istrinya pada hari dan malamnya, kecuali Saudah bintu Zam’ah karena jatahnya telah diberikan kepada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.


Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwa seorang suami diperbolehkan untuk masuk ke rumah semua istrinya pada hari giliran salah seorang dari mereka, namun suami tidak boleh menggauli istri yang bukan waktu gilirannya.


Seorang istri yang sedang sakit maupun haid tetap mendapat jatah giliran sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menyatakan bahwa jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ingin bermesraan dengan istrinya namun saat itu istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang haid, beliau memerintahkan untuk menutupi bagian sekitar kemaluannya.

Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa’dy rahimahullah, ulama besar dari Saudi Arabia, pernah ditanya apakah seorang istri yang haid atau nifas berhak mendapat pembagian giliran atau tidak. Beliau rahimahullah menyatakan bahwa pendapat yang benar adalah bagi istri yang haid berhak mendapat giliran dan bagi istri yang sedang nifas tidak berhak mendapat giliran. Karena itulah yang berlaku dalam adat kebiasaan dan kebanyakan wanita di saat nifas sangat senang bila tidak mendapat giliran dari suaminya.

C. Tidak Boleh Keluar Dari Rumah Istri Yang Mendapat Giliran Menuju Rumah Yang Lain

           Seorang suami tidak boleh keluar untuk menuju rumah istri yang lain yang bukan gilirannya pada malam hari kecuali keadaan darurat. Larangan ini disimpulkan dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di rumah Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, tidak lama setelah beliau berbaring, beliau bangkit dan keluar rumah menuju kuburan Baqi sebagaimana diperintahkan oleh Jibril alaihi wa sallam. Aisyah Radhiyallahu ‘Anha kemudian mengikuti beliau karena menduga bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan pergi ke rumah istri yang lain. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pulang dan mendapatkan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dalam keadaan terengah-engah, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, “Apakah Engkau menyangka Allah dan Rasul-Nya akan berbuat tidak adil kepadamu?”

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah menyatakan tidak dibolehkannya masuk rumah istri yang lain di malam hari kecuali darurat, misalnya si istri sedang sakit. Jika suami menginap di rumah istri yang bukan gilirannya tersebut, maka dia harus mengganti hak istri yang gilirannya diambil malam itu. Apabila tidak menginap, maka tidak perlu menggantinya.

 

Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa’dy rahimahullah pernah ditanya tentang hukum menginap di rumah salah satu dari istrinya yang tidak pada waktu gilirannya.

Beliau rahimahullah menjawab bahwa dalam hal tersebut dikembalikan kepada ‘urf, yaitu kebiasaan yang dianggap wajar oleh daerah setempat. Jika mendatangi salah satu istri tidak pada waktu gilirannya, baik waktu siang atau malam tidak dianggap suatu kezaliman dan ketidakadilan, maka hal tersebut tidak apa-apa. Dalam hal tersebut, urf sebagai penentu karena masalah tersebut tidak ada dalilnya.


D. Batasan Malam Pertama Setelah Pernikahan

        Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu bahwa termasuk sunnah bila seseorang menikah dengan gadis, suami menginap selama tujuh hari, jika menikah dengan janda, ia menginap selama tiga hari. Setelah itu barulah ia menggilir istri-istri yang lain.


Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha mengkhabarkan bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahinya, beliau menginap bersamanya selama tiga hari dan beliau bersabda kepada Ummu Salamah, “Hal ini aku lakukan bukan sebagai penghinaan kepada keluargamu. Bila memang engkau mau, aku akan menginap bersamamu selama tujuh hari, namun aku pun akan menggilir istri-istriku yang lain selama tujuh hari.”


E. Wajib Menyamakan Nafkah

           Setiap istri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri-sendiri, hal ini berkonsekuensi bahwa mereka makan sendiri-sendiri, namun bila istri-istri tersebut ingin berkumpul untuk makan bersama dengan keridhaan mereka maka tidak apa-apa.


Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa bersikap adil dalam nafkah dan pakaian menurut pendapat yang kuat, merupakan suatu kewajiban bagi seorang suami.


Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu mengabarkan bahwa Ummu Sulaim mengutusnya menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan membawa kurma sebagai hadiah untuk beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian kurma tersebut untuk dibagi-bagikan kepada istri-istri beliau segenggam-segenggam.


Bahkan ada keterangan yang dibawakan oleh Jarir bahwa ada seseorang yang berpoligami menyamakan nafkah untuk istri-istrinya sampai-sampai makanan atau gandum yang tidak bisa ditakar / ditimbang karena terlalu sedikit, beliau tetap membaginya tangan pertangan.


F. Undian Ketika Safar

           Bila seorang suami hendak melakukan safar dan tidak membawa semua istrinya, maka ia harus mengundi untuk menentukan siapa yang akan menyertainya dalam safar tersebut.

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan bahwa kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bila hendak safar, beliau mengundi di antara para istrinya, siapa yang akan diajak dalam safar tersebut.

Imam Ibnu Qudamah menyatakan bahwa seoarang yang safar dan membawa semua istrinya atau menginggalkan semua istrinya, maka tidak memerlukan undian.

Jika suami membawa lebih dari satu istrinya, maka ia harus menyamakan giliran sebagaimana ia menyamakan diantara mereka ketika tidak dalam keadaan safar.

 

G. Tidak wajib menyamakan cinta dan jima’ di antara para istri

           Seorang suami tidak dibebankan kewajiban untuk menyamakan cinta dan jima’ di antara para istrinya. Yang wajib bagi dia memberikan giliran kepada istri-istrinya secara adil.

“Dan kamu sekali-kali tiadak dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin demikian” ditafsirkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa manusia tidak akan sanggup bersikap adil di antara istri-istri dari seluruh segi. Sekalipun pembagian malam demi malam dapat terjadi, akan tetapi tetap saja ada perbedaan dalam rasa cinta, syahwat, dan jima’ .


Ayat ini turun pada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat mencintainya melebihi istri-istri yang lain. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Ya Allah inilah pembagianku yang aku mampu, maka janganlah engkaucela aku pada apa yang Engkau miliki dan tidak aku miliki, yaitu hati.”


Muhammad bin Sirrin pernah menanyakan ayat tersebut kepada Ubaidah, dan dijawab bahwa maksud surat An Nisaa’ ayat 29 tersebut dalam masalah cinta dan bersetubuh. Abu Bakar bin Arabiy menyatakan bahwa adil dalam masalah cinta diluar kesanggupan seseorang. Cinta merupakan anugerah dari Allah dan berada dalam tangan-Nya, begitu juga dengan bersetubuh, terkadang bergairah dengan istri yang satu namun terkadang tidak. Hal ini diperbolehkan asal bukan disengaja, sebab berada diluar kemampuan seseorang.


Ibnul Qoyyim rahimahullah menyatakan bahwa tidak wajib bagi suami untuk menyamakan cinta diantara istri-istrinya, karena cinta merupakan perkara yang tidak dapat dikuasai. Aisyah Radhiyallahu ‘Anha merupakan istri yang paling dicintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dari sini dapat diambil pemahaman bahwa suami tidak wajib menyamakan para istri dalam masalah jima’ karena jima’ terjadi karena adanya cinta dan kecondongan. Dan perkara cinta berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Zat yang membolak-balikkan hati. Jika seorang suami meninggalkan jima’ karena tidak adanya pendorong ke arah sana, maka suami tersebut dimaafkan. Menurut Imam Ibnu Qudamah rahimahullah, bila dimungkinkan untuk menyamakan dalam masalah jima, maka hal tersebut lebih baik, utama, dan lebih mendekati sikap adil.


Penulis Fiqh Sunnah menyarankan; meskipun demikian, hendaknya seoarang suami memenuhi kebutuhan jima istrinya sesuai kadar kemampuannya.


Imam al Jashshaash rahimahullah dalam Ahkam Al Qur’an menyatakan bahwa, “Dijadikan sebagian hak istri adalah menyembunyikan perasaan lebih mencintai salah satu istri terhadap istri yang lain.”


Saran
Seorang suami yang hendak melakukan poligami hendaknya melihat kemampuan pada dirinya sendiri, jangan sampai pahala yang dinginkan ketika melakukan poligami malah berbalik dengan dosa dan kerugian. Dalam sebuah hadits disebutkan (yang artinya) “Barangsiapa yang mempunyai dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari Kiamat akan datang dalam keadaan salah satu pundaknya lumpuh miring sebelah.” (HR. Lima)

Allahu A’lam Bis Sowab,,”  Semoga bermanfaat

——————————————————————————–
Referensi: Al-Sheikh, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq, 2003, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2, Pustaka Imam asy-Syafi’i, Bogor ü Al-Wazan, Amin bin Yahya, 2004, “Fatwa-Fatwa tentang Wanita Jilid 2”, Darul Haq, Jakarta ü As Sa’dani , As Sayyid bin Abdul Aziz, 2004, “Istriku Menikahkanku”, Darul Falah, Jakarta ü As Salafiyah , Ummu Salamah, 1425 H, Persembahan Untukmu Duhai Muslimah, , Pustaka Haura, Jogjakarta ü Sabiq, Sayyid, tt, “Fikih Sunnah 6”, cet. Ke-15, PT Al Ma’arif, Bandung ü Tim Konsultan Majalah Nikah, 2004, “Nyerobot Bisa Bikin Repot, “ , Majalah Nikah Vol.3, No.9, Desember 2004, Sukoharjo

Hukum Aqiqoh dan Udhiyah Jika Bertepatan Waktunya

Aqiqoh adalah ibadah yang sunnah muakadah sebagaimana kesepakatan para jumhur ulama. Yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Alloh  atas kelahiran seorang anak.

Begitu halnya dengan ibadah udhiyah, yang telah disepakati oleh para ulama tentang hukumnya yang sunnah muakad. Dengan melihat kedua sifat yang sama dari 2 ibadah tersebut yaitu berupa ibadah dengan cara menyembelih hewan.

Kemudian timbul pertanyaan bagaimanakah jika kedua ibadah tersebut dikerjakan dalam satu waktu dengan hewan sembelihan yang sama? Bolehkah dan  sahkah ibadah yang dilakukan..?

Dalam hal ini disebutkan dalam kitab Manarus sabil bahwa apabila waktu aqiqoh dan udhiyah bertepatan waktunya dalam satu waktu maka salah satu dari keduanya mewakili yang lain. Sebagaimana jika hari ied bertepatan dengan hari jum’at, maka seseorang dapat mandi untuk salah satu dari keduanya. (Manarus sabil: 360)

Permasalahan ini termasuk dalam pembahasan kaidah ushul fiqh yang berbunyi “jika 2 ibadah dari 1 jenis yang pelaksanaannya saling tadakhul itu bertepatan dalam satu waktu. Maka cukup mengerjakan salah satu dari keduanya saja. Jika yang dimaksudkan satu” Disebutkan pula oleh sebagian Hanabilah, “jika hari nahr dan aqiqoh bertepatan waktunya. Maka dimungkinkan mencukupkan satu sembelihan (mewakili) yang lainnya.”

(Sayid sabiq, 3/328)

Semoga Yang Sedikit Ini Dapat Bermanfaat Ya..?

Aqiqah Menurut Tinjauan Syar’i

Defenisi

Aqiqah adalah kambing yang disembelih untuk untuk bayi pada hari ketujuh kelahirannya.[1] Sedangkan di dalam kitab Mausu’ah al-fiqh al-islami dijelaskan bahwa aqiqah adalah hewan yang disembelih untuk kelahiran seorang anak. Dalam definisi lain aqiqah adalah jamuan makanan yang dihidangkan oleh para ayah karena lahirnya seorang anak.[2]

Hukum Aqiqah

Menurut Mazhab Dzahiri aqiqah hukumnya wajib, sedangkan menurut Abu Hanifah aqiqah hukumnya bukan fardhu dan bukan sunnah, melainkan hukumnya tathawu’.[3] Abu Bakar Jabir Al-Jazairi menjelaskan bahwa aqiqah hukumnya sunnah mu’akadah bagi orang tua yang mampu melakukakannya,[4] karena Rosulullah bersabda,

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُسَمَّى وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Aqiqah disembelih untuknya pada hari ketujuh, ia dinamai dan rambutnya digundul (pada hari ketujuh tersebut).” (H.R. Abu Daud dan An-Nasa’I)

Di dalam kitab Lajnah Daimah juga dijelaskan bahwa Aqiqah hukumnya sunnah mu’akadah 2 ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan kambing dan disembelih pada hari yang ketujuh,[5] hal ini sebagaimana pendapat jumhur Ulama.[6]

Aqiqah di Zaman Jahiliyah

Diriwayatkan dari Abdullah ibnu Buraidah yang telah mengatakan bahwa ia mendengar ayahnya menceritakan hal berikut: “Dahulu pada masa jahiliyah apabila bayi seseorang di antara kami baru dilahirkan, kami menyembelih kambing dan melumurkan darah kambing itu ke kepala bayinya. Setelah Allah menurunkan agama islam, maka kami diperintahkan untuk menyembelih kambing dan mencukur rambutnya serta melumurinya dengan minyak za’faran.”

Makna Setiap Anak Tergadaikan Dengan Aqiqahnya

Imam Ahmad berkata: “Anak tersebut tertahan dari memberi syafa’at untuk kedua orang tuanya.” Sedangkan Ar-Rahn menurut bahasa adalah tertahan sebagimana firman Allah ta’ala:

كُلّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

          “Tiap-tiap diri bertanggung jawab, atas apa yang telah diperbuatnya.” (Q.S. Al-Mudatsir: 3)

          Secara dzahir hadist ‘Rohinah’ bermakna terhalangi untuk berbuat kebaikan yang dikehendakinya, namun hal itu tidak menjadikannya kelak diadzab di akhirat. Jika seorang anak terhalangi untuk berbuat kebaikan karena kedua orang tuanya tidak melaksanakan aqiqahnya, maka berarti dia telah kehilangan kebaikan disebabkan oleh kelalaian kedua orang tuanya sebagaimana hubungan jima’ tatkala sang ayah membaca tasmiyah, maka setan tidak bisa berbuat kemudharatan kepada anaknya, akan tetapi jika tidak membacanya niscaya penjagaan tersebut tidak bisa di dapat. Dengan demikian ini menunjukkan bahwa aqiqah lazim untuk dilaksanakan dan sebuah keharusan, sebagaimana pendapat Al-Laits bin Sa’ad Al-Hasan Al-Basri dan Ahlu Dhahir.[7]

Hikmah Aqiqah

Aqiqah disyareatkan memiliki hikmah diantaranya ialah sebagai bentuk syukur seorang ayah kepada Allah ta’ala atas nikmat anak dan merupakan wasilah untuk Allah ta’ala dalam menjaga dan mengasuhnya.[8]

Di antara faedah aqiqah yang disebutkan oleh Ibnul Qoyim dalam bukunya yang berjudul “Tuhfatul Maudud” bahwa aqiqah sama halnya dengan berkurban untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, melatih diri untuk bersikap pemurah, dan mengalahkan kekikiran yang ada dalam diri manusia. Memberikan jamuan makanan adalah sebuah bentuk amal pendekatan diri kepada Allah dan aqiqah adalah membebaskan bayi dari rintangan yang menghambatnya untuk dapat memberi syafaat kepada kedua orang tuanya atau dari halangan untuk beroleh syafa’at dari kedua orang tuanya.[9]

Syarat Hewan Aqiqah

Ibnu Qudamah dalam al-Mughni menjelaskan Hewan aqiqah hendaknya selamat dari cacat, sebagaimana hal tersebut berlaku untuk hewan yang dijadikan kurban. Karena hukum aqiqah sama seperti hukum udhiyah dalam masalah umurnya, begitu juga hal-hal yang menghalangi syah hewan kurban juga berlaku dalam aqiqah dan dianjurkan untuk memilih sifat hewan aqiqah yang telah disunnahkan. Imam At-Tha’ berkata, “Hewan jantan lebih saya senangi dari pada betina.[10] Hal ini senada dengan perkataan Jumhur Ulama yang mengatakan bahwa, tidak boleh menyembelih hewan aqiqah kecuali dengan hewan yang diperbolehkan dalam udhiyah.[11] Adapun ketentuan kambing aqiqah sama seperti ketentuan yang berlaku pada hewan kurban.

  • Hewan Aqiqah yang disunnakan

Disunnahkan berkurban dengan domba yang gemuk, bertanduk dan jantan. Ini merupakan kesepakatan ulama fikih.

  • Hewab aqiqah yang dilarang hukumnya

Dilarang berkurban dengan hewan yang buta sebelah, hewan yang sakit, hewan yang pincang serta hewan yang kurus. Ini merupakan kesepakatan ulama fikih. Berhujah dengan sabda Nabi saw,

أَرْبَعٌ لاَ تَجُوْزُ فِي اْلأَضَاحِي اْلعَوْرَاءُ اْلبَيِّنُ عَوْرَهَا وَاْلمَرِيْضَةُ اْلبَيِّنُ مَرَضَهَا وَاْلعَرْجَاءُ اْلبَيِّنُ

 ضَلْعُهَا وَاْلكَسِيْرُ أَوْ اْلعَجَقَاءُ الَّتِي لاَ تُنْقَى

  “Empat jenis hewan yang tidak boleh dijadikan kurban, hewan yang buta sebelah yang jelas butanya, hewan yang sakit jelas sakitnya, hewan yang pincang yang jelas pincangnya dan hewan yang kurus yang hilang sungsumnya.”(H.R.Al-Khomsah, Ahmad dan Ashabu sunnan dan dishahihkan oleh Tirmidzi)

  • Hewan Aqiqah yang hukumnya makruh

Makruh hukumnya berkurban dengan hewan yang kupingnya terbelah, robek, dan yang terpotong. Begitu juga hewan yang diambil bulunya sebelum dipotong, hewan yang matanya juling atau giginya sudah copot karena umurnya sudah tua dan hewan yang berkudis yang banyak kudisnya.[12]

Para Ulama Mazahib telah sepakat bahwa tidak syah berkurban dengan hewan yang buta sebelah mata, pincang, hewan yang sakit serta hewan yang kurus yang sungsumnya telah hilang. Sedangkan mereka berselisih mengenai hewan yang pecah tanduknya dan terbelah telinganya.[13]Jumhur Ulama berpendapat, jika cacat fisik yang terdapat pada hewan kurban sangat parah, maka hal itu menghalangi kesyahan hewan kurban.[14]

Imam Abu Hanifah, Syafi’I dan jumhur ulama berpendapat bahwa syah hukumnya berkurban dengan hewan yang pecah tanduknya secara mutlak dan Imam Malik memakruhkannya.[15]

Jumlah Hewan Aqiqah

Para Fuqaha’ berbeda pendapat mengenai jumlah hewan aqiqah adalah sebagai berikut:

  • Imam Malik berkata: Aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan satu kambing satu kambing.
  • Menurut Imam Syafii, Abu Tsaur, Abu Daud dan Imam Ahmad mereka berpendapat bahwa aqiqah untuk anak perempuan satu kambing dan untuk anak laki-laki dua kambing.

 

Waktu Pelaksanaan Aqiqah

  • .Jumhur Ulama berpendapat bahwa waktunya adalah hari ketujuh dari kelahiran seorang anak.[16]
  • Di dalam kitab Lajnah Daimah dijelaskan bahwa Aqiqah hukumnya sunnah mu’akadah 2 ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan kambing dan disembelih pada hari yang ketujuh. Jika mengakhirkan pelaksanaan dari hari ketujuh, maka boleh menyembelih pada setiap waktu, dan tidak berdosa mengakhirkan pelaksanaannya namun yang afdhol untuk menyegerakannya.[17]
  • Di dalam kitab Nailul Authar di jelaskan pelaksanaan waktu aqiqah pada hari ketujuh dari kelahiran seorang anak dan bawasannya tidak ada aqiqah jika sudah berlalu dari hari tersebut dan juga ketika meninggal sebelum hari ketujuh.
  • Imam Malik berkata, “Telah dikisahkan dari Ibnu Wahab bahwa beliau pernah berkata, ‘Jika tidak dilaksanakan pada hari ketujuh yang awal dan yang kedua, maka Imam Thimidzi telah menukil perkataan Ahlu Ilmi bahwa mereka menganjurkan untuk melaksanakan aqiqah pada hari ketujuh, jika tidak mungkin untuk dilaksanakan pada hari tersebut, maka pada hari keempat belas, jika tidak munngkin lagi, maka pada hari keduapuluh satu. Sedangkan hujah yang memperkuat pendapat ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya dari Nabi saw  beliau bersabda,

 

الْعَقِيقَةُ تُذْبَحُ لِسَبْعٍ وَلِأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَلِإِحْدَى وَعِشْرِينَ

  “Aqiqah disembelih pada hari ketujuh, keempat belas dan kedua puluh satu.” (H.R. Al-Baihaqi)

  • Imam Syafii berkata, “Maksudnya aqiqah tidak diakhirkan dari hari ketujuh sebagai bentuk ikhtiyar, jika mengakhirkan sampai anak tersebut baligh, maka hukum aqiqah gugur dari pihak yang mengaqiqahi, akan tetapi jika ingin mengaqiqahi dirinya sendiri maka hukumnya boleh.[18]
  • Sedangkan mazhab Hambali dan jama’ah Ahli fikih berpendapat bahwa tetap dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah meskipun sudah berlalu satu bulan atau satu tahun atau lebih dari hari kelahiran sang bayi yaitu dengan mengambil keumuman hadist, yang diriwayatkan Baihaqi dari Anas ra  bahwa Nabi saw melaksanakan aqiqah untuk dirinya setelah bi’sah.[19]
  • Sedangkan untuk bayi yang berumur satu tahun setengah kemudian meninggal dan belum sempat di aqiqahi, maka mengakhirkan pelaksanaan aqiqah hukumnya syah, namum hal ini menyelisihi waktu yang disunnahkan.[20]

Hal-hal Yang Disunnahkan Pada Hari Ketujuh

  • Anak laki-laki disunnahkan diaqiqahi dengan dua kambing, karena Rosulullah saw menyembelih dua kambing untuk Hasan. ( H.R. At-Thirmidzi)
  • Pembagian Aqiqah disunnahkan dibagi sepeti daging hewan udhiyah, tuan rumah memakan sebagiannya, bersedekah dengan sebagain darinya, dan menghadiahkan sebagian yang lain.
  • Disunnahkan bayi pada hari ketujuh dari kelahiran diberi nama dengan nama yang paling baik. [21] Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Diantara keindahan ialah memberi nama yang baik bagi anak dan tidak memberinya nama yang mengandung nama buruk.[22] Rosulullah bersbda,

أَحَبَّ اْلأَسْمَاءِ إِلَى الله عَبْدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمنِ وَأَصْدَقُهَا حَارِثٌ وَهَمَامٌ وَأَقْبَحُهَا حَرْبٌ وَمُرَةٌ

            “Nama yang paling disukai Allah ta’ala adalah Abdullah dan Abdurahman dan nama yang paling baik adalah Harist dan Hamman, sedang nama yang paling buruk adalah harb (perang) dan muroh (pahit).” (H.R.Abu Daud)                                            

  • Mencukur rambut bayi, membersihkan dan menghilangkan kotoran. Islam mensyareatkan untuk mencukur rambut bayi pada hari ketujuh sesudah kelahirannya untuk menunjukkan perhatian islam kepada bayi dan melenyapkan kotoran yang mengganggunya. Bahkan islam mengajurkan agar dikeluarkan shadaqah darinya sesuai dengan timbang rambutnya baik berupa emas maupun perak.[23] Abu Bakar Jabir Al-Jazairi menjelaskan pada hari itu rambutnya digundul kemudian bersedekah dengan emas dan perak, atau uang seberat rambutnya.[24]

Adakah Aqiqah Untuk bayi Yang Meninggal Sebelum Hari Ketujuh?

Sedangkan anak bayi yang meninggal sebelum hari ke tujuh, maka hendaknya anak tersebut tetap diaqiqahi pada hari ke tujuh. Kemantianya sebelum hari ketujuh tidak menjadi penghalang untuk pelaksanaan aqiqah. Karena kami tidak mengetahui adanya dalil yang yang menunjukkan tentang gugurnya kewajiban aqiqah, jika bayi meninggal sebelum hari ketujuh, akan tetapi dalil-dalil yang ada bersifat umum yang menunjukkan bahwa aqiqah disyareatkan ketika adanya kelahiran seorang bayi dan kami tidak mengetahui adanya dalil yang merubah keumuman ini. Disyareatkan aqiqah pada hari ketujuh ini tidak berarti tidak boleh aqiqah pada hari selainnya. Namun kelahiran seorang bayi menjadi penyebab adanya aqiqah. Adapun hari ketujuh merupakan waktu yang afdhol untuk pelaksanaan syareat ini. Maka dari itu jika pelaksanaannya sebelum hari ketujuh, maka aqiqah tetap dianggap syah sebagaimana keterangan Ibnu Qoyim dan yang sepakat dengannya dari kalangan ahlu ilmi.[25]

ü  Tidak ada aqiqah untuk anak yang keguguran, jika ruh belum ditiupkan pada dirinya, meskipun ada keterangan bahwa bayi tersebut laki-laki atau perempuan, karena bayi tersebut belum berwujud bayi yang dilahirkan. Sedangkan jika yang lahir janin yang hidup kemudian meninggal sebelum hari ketujuh, maka tetap disunnahkan untuk melaksanakan aqiqah pada hari ketujuh dan memberinya nama. Jika sudah berlalu hari ketujuh dan belum diaqiqahi, maka menurut sebagian ulama fikih berpendapat tidak wajib untuk diaqiqahi setelahnya, karena Nabi saw membatasi waktunya pada hari ketujuh. [26]

Semoga Bermanfaat ya,,,?


[1]. Minhajul Muslimin: 286

[2]. Mausu’ah al-fiqh al-Islami: 1:19

[3]. Bidayatul Mujtahid: 1/373

[4]. Minhajul Muslim: 286

[5]. Al-Lajnah Ad-Daimah lilbuhutsi ilmiyah wal ifta’: 14/13

[6] .Bidayatul Mujtahid: 1/373

[7]. Zadul Ma’ad

[8]. Minhajul Muslim: 286

[9]. Atfalul Muslimin terjmh: 84

[10] .Al-Mughni 22, 10

[11]. Bidayatul Mutahid: 1/373

[12]. Fiqh islami wa adilatuha: 3/617-624

[13]. Majmu’ syarhul muhazab: 8/297

[14]. Bidayatul mujtahid: 4/77

[15]. Nailul Author: 5/205

[16]. Bidayatul Mutahid: 1/373

[17]. Al-Lajnah Ad-Daimah lilbuhutsi ilmiyah wal ifta’: 14/13

[18]. Al-Lajnah Ad-Daimah lilbuhutsi ilmiyah wal ifta’: 8/156

[19]. Al-Lajnah Ad-Daimah lilbuhutsi ilmiyah wal ifta’: 14/26

[20]. Al-Lajnah Ad-Daimah lilbuhutsi ilmiyah wal ifta’: 14/27

[21]. Minhajul Muslim: 287

[22]. Atfalul Muslimin terjmh: 89

[23]. Atfalul Muslimin terjmh: 84

[24]. Minhajul Muslim: 287

[25]. Lajnah Daimah:14/24

[26]. Lajnah Daimah: 14/26